Contoh Iklan BAM 970 x 250 pixel

Universitas Sains Al-Quran Dalam Arus Kemajuan Zaman

PASARKAYU
banner 468x60

Wonosobo (Jateng), SUARAKLATEN.id – “Memasuki usia yang ke 27 tahun UNSIQ menandai kemajuannya dengan berbagai torehan prestasi yang cukup pesat dalam banyak hal. Di antaranya penambahan pembukaan program studi baru yang dibutuhkan masyarakat, seraya tetap menjaga eksistensi program studi yang telah ada dengan upaya peningkatan kualitas akademik. Sehingga tidak heran jika minat masyarakat dari tahun ke tahun semakin meningkat jumlahnya untuk menjadi mahasiswa baru di UNSIQ”. Demikian ungkap KH. Dr. Muchotob Hamzam, Rektor UNSIQ Jawa Tengah di Wonosobo dalam sambutannya pada dies natalis yang Ke-27 (disampaikan lima tahun lalu).

Universitas Sains Al-Quran atau yang lebih dikenal dengan nama UNSIQ, adalah sebuah universitas berbasis Al-Quran yang berdiri tahun 1987 di Wonosobo, Jawa Tengah. Berdirinya PT ini berawal dari sebuah gagasan dan niat suci KH. Muntaha al-Hafidh, pengasuh Pondok Pesantren Tahfidhul Quran (PPTQ) al-Asy’ariyah, Kalibeber, Wonosobo, untuk mendirikan sebuah pendidikan tinggi yang berbasis Al-Quran. Sebagai langkah permulaan maka pada tahun 1987 didirikanlah Yayasan Pendidikan Ilmu-Ilmu Al-Quran (YIIQ) di kota yang terkenal sejuk ini.

JIIFINA - JOGJA 2024

Gagasan tersebut mendapat respon positif dari sejumlah tokoh masyarakat di Jawa Tengah yang terbentuk dalam empat pilar: Ulama (pesantren), Umara (Pemda Propinsi Jawa Tengah dan Pemda Kabupaten), Pengusaha (dan kalangan industri) dan akademisi.

Langkah sinergis kerjasama keempat pilar itu melibatkan Kanwil Depag, Biro Bintal (Bimbingan Mental), LPTQ dan beberapa dosen IAIN Walisongo Semarang, menghasilkan berdirinya Institut Ilmu-Ilmu Al-Quran (IIQ) Jawa Tengah di Wonosobo tahun 1987. Pencantuman nama “Jawa Tengah” pada IIQ, dimaksud sebagai manifestasi pemrakarsa dan menunjukkan bahwa IIQ adalah milik Jawa Tengah yang di tempatkan di Wonosobo.

Pendirian IIQ tersebut mendapat restu dan persetujuan H. Munawir Sadzali (Menteri Agama RI) saat melakukan kunjungan kerjanya di Pesantren al-Asy-ariyah Kalibeber pada tahun yang sama. Searah dengan dinamika jaman, tahun 1998 nama YIIQ disempurnakan menjadi YPIIQ (Yayasan Pendidikan Ilmu-Ilmu Al-Quran), sehingga gerak yayasan ini lebih fleksibel dalam membangun dinamikaya di bidang pendidikan yang berbasic Al-Quran.

Dari IIQ ke UNSIQ
Di awal permulaan berdirinya IIQ (Institut ILmu-Ilmu Al-Quran), Perguruan Tinggi ini hanya memiliki dua fakultas dan dua prodi pada jenjang S-1, yaitu: Fakultas Tarbiyah (dengan prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Fakultas Dakwah dengan prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI). Hingga tahun 1993 IIQ telah memiliki tiga fakultas dengan enam program studi. Ini sebuah perkembangan yang cukup menggembirakan bagi sebuah universitas yang berada di lerang dataran tinggi Dieng.

Menyusul berdirinya tiga fakultas yang sudah ada, tahun 1996 IIQ kembali membuka Program Pendidikan D-III Keperawatan (AKPER) yang berada di bawah Departemen Kesehatan RI, lalu disusul berdirinya STIE (Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi) YPIIQ tahun 1999 (yang kemudian berubah menjadi Fakultas Ekonomi). Berdirinya Program Pendidikan Keperawatan dan STIE inilah yang menjadi titik awal perubahan IIQ menjadi UNSIQ (Univeritas Sains Al-Quran).

Dalam usianya yang ke 35 saat ini, kampus Hijau yang memiliki visi: Menuju Universitas Transformatif, Humanis dan Qur’ani itu, saat ini telah memiliki 8 fakultas dan 26 program studi, meliputi fakultas agama dan umum, mulai dari jenjang diploma (D-III), sarjana S-1 dan program pascasarjana (S-2) bidang pendidikan dan Islamic studies. Keseluruhan program studi ini dalam praktik pengajarannya tidak lepas dari unsur Al-Quran sebagai pijakan keilmuan, sekalipun belum menjadi kurikulum secara khusus.

Langkah ini ditempuh untuk menggali nilai-nilai keilmuan dalam Al-Quran yang tidak mengenal batas wilayah antara agama dan umum. Sebab seluruh keilmuan yang ada hakikatnya bersumber dari yang satu, yaitu Allah (Tuhan Maha Tunggal). Dan Al-Quran adalah miniatur ilmu Tuhan yang diturunkan di bumi untuk digali maknanya sebagai sumber keilmuan”.

By : Dr. Po (Dr. Asmaji Muchtar)

suraTV

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

JIIFINA - JOGJA 2024